Ticker

6/recent/ticker-posts

Awal dari Sebuah Rasa

ceritasexnagaqq - namaku Ratih. Umurku baru sembilan belas. Banyak orang bilang aku masih muda, masih punya masa depan panjang. Tapi dari kecil, aku gak pernah ngerasain yang namanya rumah. Orang tuaku meninggal waktu aku masih bayi, katanya kecelakaan. Sejak itu, hidupku pindah-pindah dari satu panti asuhan ke panti lainnya.

Sekarang, aku udah lulus SMA. Punya ijazah doang nggak cukup, aku butuh kerja buat hidup. Makanya aku bersyukur banget waktu dapet kerja di sebuah konterr HP kecil di pinggiran kota. Pemiliknya, Pak Arman, pria paruh baya umur 42 tahun—tingginya sekitar 175 cm, kulit agak gelap, dan selalu pake baju rapi. Wajahnya jarang senyum, tapi tatapannya dalam dan… entahlah, kadang bikin aku gugup sendiri.

Kerja aja yang bener, gak usah neko-neko. Aku gak suka anak manja,” katanya waktu pertama kali nerima aku kerja.

Aku cuma angguk-angguk. Aku emang bukan anak manja. NAGAQQ

Konterr itu kecil tapi ramai. Aku biasa datang jam 9 pagi, pulang jam 6 sore. Kadang kalau lagi ramai, bisa lebih malam. Tapi aku gak pernah ngeluh. Aku udah terbiasa hidup susah. Dibentak pun aku gak nangis, udah sering dulu waktu di panti.

Pak Arman kadang terlihat galak, tapi sering juga diam-diam perhatiin aku dari balik rak. Kalau aku lagi beresin etalase, dia berdiri di belakang, nyodorin barang tanpa ngomong apa-apa. Dingin. Tapi makin lama, ada yang aneh aku rasain. Perhatiannya pelan-pelan bikin aku nyaman. Bukan nyaman seperti ayah ke anak, tapi… ada sesuatu yang aku gak bisa jelasin.


Suatu malam, konterr sepi. Jam hampir jam 8. Hujan turun dari sore, deras banget. Aku udah siap mau pulang, tapi gak bawa payung.

“Kamu gak bawa mantel?” tanya Pak Arman.

Aku geleng. “Gak sempet ambil di kos.”

Dia ngelirik keluar, lalu bilang, “Tunggu aja di dalam. Hujannya masih deras.”

Aku duduk lagi di kursi plastik, diem. Dia ikut duduk, tapi di meja kasir, sambil buka-buka pembukuan. Tapi gak lama, dia matiin lampu display, lalu ke belakang dan balik bawa dua gelas teh hangat.

“Minum. Biar gak masuk angin.”

Aku ambil pelan. “Makasih, Pak.”

Dia duduk agak dekat kali ini. Udara dingin, teh itu hangat, tapi ada yang lebih hangat: suasana.

“Kamu tinggal sendirian di kos?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Keluarga?”

“Gak punya, Pak. Saya dari kecil di panti.” Agen Bandarq

Dia mengangguk pelan. Tapi matanya gak lepas dari wajahku. Aku nunduk. Jantungku deg-degan sendiri, bukan karena teh atau hujan. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku sadar: tatapannya beda.

Lalu dia angkat tanganku. Tangannya besar, kasar, hangat. Dia cuma megang sebentar. Tapi waktu dia bilang, “Kamu kuat ya… anak sekuat ini jarang,” rasanya kayak ada yang meleleh di dadaku.

Aku gak tahu kenapa. Tapi malam itu, aku ngerasa seperti… mau nurut apapun kalau dia yang nyuruh.

Malam itu jadi awal dari sesuatu yang beda. Aku gak ngerti perasaan ini—aneh, asing, tapi gak bikin takut. Setelah dia genggam tanganku, suasana hening. Cuma suara hujan yang deras di luar. Tapi di dalam, rasanya… hangat, deg-degan.

Tangannya lepas pelan. Tapi tatapannya masih di aku.

“Ratih,” katanya pelan, “kalau kamu capek, atau butuh tempat pulang… kamu bisa ke sini. Aku ngerti kamu gak punya siapa-siapa.”

Aku angguk pelan. Aku nunduk. Tapi dalam hati, kalimat itu kayak nyangkut di tenggorokan. Kayak aku pengen nangis. Selama ini, gak ada yang bilang gitu ke aku. Semua orang cuma nyuruh aku kuat. Tapi dia… beda.

Beberapa hari setelah itu, aku jadi lebih sering diperhatikan. Kadang dia bawain aku sarapan, kadang nyuruh aku istirahat duluan. Tapi tatapannya makin lama makin sering bikin aku salah tingkah. Tatapan tajam yang pelan-pelan jadi kayak ngelus tubuhku dari jauh.

Dan anehnya, aku gak nolak.

Suatu sore, konterr sepi banget. Dia lagi duduk ngerokok di belakang. Aku beresin barang di rak. Waktu aku jongkok di lantai, nyusun dus-dus HP, dia dateng dan berdiri di belakangku. Poker qq Online

“Pelan-pelan, baju kamu kebuka,” katanya pelan.

Aku kaget, langsung berdiri dan nutup dada. Tapi dia senyum dikit. “Gak apa. Cantik kok.”

Aku gak bisa jawab. Pipi panas. Tapi aku juga gak pergi. Aku diam aja, sementara dia mendekat.

Tangan besarnya menyentuh rambutku. Lalu turun ke pipi. Aku diam. Aku ngerasa jantungku kayak mau copot.

“Kamu pernah ngerasain disayang gak?” bisiknya.

Aku geleng.

“Dipeluk?”

Geleng lagi.

Dia menarik aku pelan, masuk ke pelukannya. Gak erat, tapi cukup buat ngebuat aku leleh. Untuk pertama kali dalam hidupku… aku dipeluk oleh orang yang bukan pengasuh panti, bukan temen sekamar. Tapi… lelaki.

Dan entah kenapa, aku gak nolak.

Pelukannya gak buru-buru. Tangannya gak langsung nakal. Tapi aku bisa ngerasain napasnya di leherku. Hangat. Dan aku… gak bisa bohong, memek-ku mulai geli. Basah.

“Ratih…”

“Iya, Pak…”

“Boleh aku peluk kamu lebih lama?”

Aku angguk. Dan pelukannya jadi lebih erat.

Tangannya mulai naik turun di punggungku. Kadang berhenti di pinggang. Lalu dia mundur sedikit, menatap mataku.

“Boleh aku cium kamu?” bisiknya.

Aku gak jawab. Tapi aku juga gak pergi. Jadi dia cium. Bibirnya kasar, tapi gerakannya lembut. Dan jujur, aku gak pengen itu berhenti.

Tangannya naik ke gunung cintaku, meremas pelan. Aku mendesah kecil. Itu pertama kalinya payudaraku disentuh laki-laki. Tapi aku gak nolak. Malah pelukannya aku eratkan.

“Masih bisa lanjut?” bisiknya.

Aku mengangguk lagi.

“Aku bisa berhenti kalau kamu mau.”

“Nggak usah berhenti…”

Tangannya turun ke bawah. Ke pahaku. Lalu masuk ke balik rokku. Jemarinya menyentuh memek-ku yang udah basah banget.

“Ratih… kamu siap ya?”

Aku cuma menutup mata dan mengangguk pelan. Napasku cepat. Aku udah gak tahan.

Jemarinya mulai main. Gak kasar, tapi penuh pengalaman. Aku megap-megap. Gak pernah aku ngerasain kayak gini. Memek-ku basah banget, dan dia tahu titik-titik mana yang bikin aku gemetar.

Aku menggigit bibir. “Pak… aku… aku gak tahan…”

“Tenang. Nikmatin aja…”

Tangannya gak berhenti mainin memek-ku. Jemari Pak Arman lincah, penuh pengalaman. Aku berdiri gemetar sambil bersandar ke dinding belakang konterr. Rokku udah melorot ke lutut, dan memek-ku basah banget, sampai celana dalamku lengket kayak tisu kena teh.

Desahanku makin berat.

“Pak… uuhh… jangan berhenti…”

“Pelan, Ratih… rasain semua…”

Dia jongkok di depanku. Wajahnya sekarang sejajar dengan pangkal pahaku. Aku berusaha jaga suara, takut ada orang lewat depan konterr, tapi aku gak bisa nahan. Jemarinya nyibak celana dalamku, dan lidahnya langsung ngelelet ke memek-ku yang udah licin.

Aku terlonjak. “Aaahh… Pak… itu… memek-ku…”

“Manis banget,” katanya, sebelum kembali jilat memek tanpa henti.

Lidahnya muter, masuk ke sela memek, naik turun, kadang ke titik paling sensitif yang bikin lututku goyah. Aku gak pernah tahu ternyata tubuhku bisa begini. Aku cuma bisa pegangan ke rak etalase sambil nangis kecil. Bukan karena sakit. Tapi karena terlalu enak.

“Pak… Pak… aku mau… mau crott…” Bandarq Online

“Crott di memek gak papa. Aku pengen rasain semua dari kamu.”

Tangannya gak berhenti sambil dia jilmek. Jemarinya masuk ke dalam, lidahnya main di luar. Aku gak bisa tahan lagi.

“AAHH… Aku… aku crott…”

Tubuhku gemetar hebat. Cairan hangat keluar dari memek-ku, dan Pak Arman cuma diem sambil senyum.

“Kamu enak banget, Ratih. Memek kamu lembut… wangi…”

Aku masih gemetar waktu dia bangkit berdiri. Tangannya ngelepas sabuk, dan kontol-nya keluar.

Itu pertama kalinya aku lihat barang asli laki-laki. Besar, tegang, berurat. Aku sempat mundur, takut. Tapi dia cuma nyentuh rambutku pelan.

“Coba, Ratih. Kamu pasti bisa. Nyusu kontol gak susah…”

Aku menelan ludah, lalu berlutut. Tangan gemetar waktu nyentuh kontol-nya. Panas. Berdenyut.

Aku buka bibir, dan pelan-pelan masukin ujung kontol itu ke mulutku. Rasa asin, agak pahit, tapi hangat. Aku mulai gerak pelan-pelan. Naik turun.

“Bagus… kamu pintar…” katanya sambil elus kepalaku.

Aku makin dalam. Makin cepat. Suara nyusu kontol dari mulutku mulai makin kencang, basah dan berisik.

“Ratih… aku mau crott… di mulut kamu…”

Aku gak mundur. Malah aku pengen ngerasain. Dan gak lama kemudian, cairan hangat menyemprot dari ujung kontol-nya. Sperma crott di lidahku, banyak banget sampai aku nyaris keselek.

Tapi aku telan. Semuanya. Karena malam itu, aku bukan cuma jadi karyawan konterr. Aku jadi milik Pak Arman.

Aku gak nyangka hidupku yang hampa dari kecil bakal berubah secepat ini. Gak ada cinta yang romantis. Gak ada janji indah. Tapi aku rela. Mungkin karena aku gak pernah tahu rasanya dimiliki. Dan sekarang… aku jadi milik seseorang. Utuh. Bahkan seluruh tubuhku pun.


Sejak malam itu, semuanya berubah.

Domino99

Aku tetap kerja seperti biasa, buka konterr jam sembilan, nutup jam enam. Tapi setiap kali konterr sepi, atau malam tiba, Pak Arman sering manggil aku ke ruang belakang. Ruangan kecil tempat dia simpan stok barang… dan sekarang juga tempat dia mainin aku.

Awalnya aku masih malu, masih gemetaran waktu dia buka bajuku. Tapi makin hari, tubuhku belajar sendiri. Belajar ngerespon sentuhan, ngerespon bisikan di telinga, dan… nyariin kontol dia.


“Ayo, Ratih. Duduk di kursi itu, angkat rokmu…”


Aku patuh. Aku selalu patuh. Entah kenapa, aku merasa aman meski dia keras. Mungkin karena aku gak pernah punya orang yang ngatur aku seperti ini. Gak ada yang punya hak atas tubuhku… sampai akhirnya dia datang.

Dia berdiri di depanku, sambil buka celana pelan. Kontol-nya udah keras sejak tadi. Aku buka mulut, siap nyusuin, tapi dia geleng.

“Sekarang, kamu duduk di meja. Kangkang. Aku mau memek kamu dulu.”

Aku nurut. Naik ke atas meja stok. Aku buka dalemanku sendiri. Duduk sambil memek ngangkang di depan dia.

Dia jongkok. Jilat memek-ku sambil sesekali masukin dua jarinya. Aku udah gak tahan, memek-ku becek banget. Suaranya sampe pletak-pletok, kayak tahu basah diaduk sendok.

“Memek kamu makin enak tiap hari,” katanya.

Aku cuma bisa mendesah. “Aahh… Pak… crott lagi…”

Aku crott untuk kedua kalinya siang itu.

Lalu dia berdiri. Angkat kedua kakiku ke bahunya, dan masukin kontol-nya ke dalam memek-ku.

Plak plak plak.

Aku menjerit pelan. Badanku goyang kena dorongannya. Dia masukin pelan dulu, tapi makin lama makin cepat.

“Aaahh… Pak… dalem banget…”

“Terima semuanya, Ratih. Ini milikmu juga.”


Tangannya neken perutku, ngerasa ujung kontol-nya sampai dalam. Memek-ku mulai keram, tapi rasanya nikmat. Setiap goyangan kayak bikin tubuhku meledak kecil-kecilan.

Dia ubah posisi. Aku disuruh tengkurap di atas kursi, dan dia masuk dari belakang, gaya anjing.

“Posisi ini enak, Ratih. Kamu harus biasa…”

Aku angguk. Suaraku cuma desahan.


Kontol-nya masuk makin dalam. Tiap dorongan bikin punggungku melengkung. Aku sesekali nengok ke belakang, dan pemandangan dia dengan tubuh besar, pegang pinggulku, sambil tabrak memek-ku… bikin aku tambah liar.

“Pak… crott… aku crott lagi…”

“Aku juga, Ratih…” Slot Gacor

Dia tarik pelan, lalu tumpahin sperma di punggungku, panas dan banyak. Sebagian muncrat sampai ke leherku.

Aku rebah, lemas. Napas ngos-ngosan. Tapi hatiku… penuh.

Dia peluk dari belakang. “Kamu sekarang… milikku, Ratih.”

“Iya, Pak… memek ini cuma buat Bapak…”

Dan memang begitu adanya.

Posting Komentar

0 Komentar